Bismillahirromanirrohim
MENGHITUNG SISA
Usia boleh berbilang,
namun umur bisa sangat panjang
jika ‘waktu efektif’ tidak terbuang.
KONON sepertiga dari
kehidupan anak manusia ini digunakan untuk tidur. Dengan demikian andaikan
seseorang itu berumur 60 tahun, maka 20 tahun kehidupannya dihabiskan hanya
untuk tidur dan jaganya cuma 40 tahun. Kemudian, secara umum seseorang baru
mencapai tingkat kedewasaan diperkirakan setelah mencapai usia 15 tahun, dengan
demikian waktu efektif untuk meraih nilai kehidupan hanyalah 25 tahun, yakni 40
– 15. Ternyata begitu sedikit, bagaimana pula kalau kesempatan hidup cuma 20
atau 30 tahun, atau jam tidurnya ditambah di kantor, bus kota, tempat pelatihan
ataupun di masjid ketika mendengarkan
khotbah Jum’at?.
Dalam pemanfaatan waktu efektif tersebut,
banyak sekali kegiatan rutin maupun insidental yang telah kita lakukan. Secara
kuantitas memang terhabiskan dan terasa sangat singkat, namun secara kualitas
masih perlu dipertanyakan dan mendapat
perhatian ekstra, sebab ’waktu jaga’ bisa bernilai posistif atau pun
negatif yang dapat berbuah pahala atau pun dosa.
Betapa malang dan menyedihkan jika waktu
tersisa efektif itu akhirnya harus tercabik-cabik di perjalanan, pasar, kantor, rapat-rapat, tempat hiburan, pos
ronda, hobby, asap rokok ataupun di
gejolak nafsu serta angan yang tak akan pernah terpuaskan.
Waktu yang berlari sangat cepat, telah
menyentak banyak kehidupan, kejayaan, keangkuhan dan penderitaan dalam bingkai
sejarah dan artefak yang terserak. Siapa, apa, di mana dan bagaimana pun kita,
sentakan itu pasti datang cepat atau lambat yang dapat memaksa seseorang untuk
menyesali ataupun mensyukuri keberadaan singkatnya.
Usia
boleh berbilang, namun umur bisa sangat panjang jika ‘waktu efektif’ tidak
terbuang. Tinta emas sejarah banyak bercerita tentang polah anak manusia dengan
catatan dalam tanda kurung ( ) untuk waktu kelahiran dan wafatnya. Tidak banyak
yang berusia sampai 100 tahun, namun
nama, temuan, perilaku dan petuah mereka terasa masih sangat aktual dan menjadi
sumber inspirasi. Catatan dalam tanda kurung ( ) itu telah berbicara banyak
tentang kelahiran, perjuangan, kegagalan maupun kesuksesan yang akan selalu berujung di titik jeda,
‘kematian’, siapapun dia.
Mengingat masih ada perjalanan panjang yang
harus dilewati dan tidak terukur lamanya setelah kehidupan singkat ini, manusia
akan selalu berada dalam posisi ‘merugi’
jika eksistensinya dalam pengisian waktu itu tidak bermanfaat dan sia-sia.
Hanya kemapuan dan kemauan untuk mengoptimalkan eksistensi di dimensi waktu
itulah yang memungkinkan manusia bisa terbebas dari posisi kerugian tersebut.
Untuk itu menurut Al Qur’an Surat Al Ashr, keimanan yang sangat individual dan
vertikal merupakan indikator utama nilai, sedang amal salih yang berdimensi
sosial merupakan keniscayaan bahwa keberadaan ini harus bermanfaat. Sinergitas
keimanan dan amal salih yang selalu pasang-surut serta dipengaruhi banyak
faktor, memerlukan tekad dan kerja keras
untuk istiqomah (konsisten) saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran
walaupun kuping telah tertutup dan langit akan runtuh. Jangan pernah berhenti
dan kecewa, bertahanlah selalu dalam usaha dan proses, sebab ‘hasil akhir’
mutlak domein-Nya.
Berhitunglah dengan ketat dan cerdas soal
‘waktu’ tersisa, sebab, “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat
diharapkan lebih dari itu diperoleh esok, tetapi waktu yang berlalu hari
ini tidak mungkin dapat diharapkan
kembali esok,” demikian tausiah Imam Ali, r.a. dalam sebuah kesempatan. Wallahu
a’lam.
Ya Allah ya Rabb, tolong bimbing kami selalu untuk dapat mengisi hari
tersisa agar tidak salah langkah dalam kesia-siaan dan kerugian. Di luas dan
indahnya cinta-Mu, kami gantungkan harapan dan kecemasan. Ya Rasul salam
alaika.
Marabahan, Juni 2012