Jumat, 05 Oktober 2012

BABAGI KISAH

Bismillahirromanirrohim
MENGHITUNG SISA
Usia boleh berbilang, namun umur bisa sangat panjang
 jika ‘waktu efektif’ tidak terbuang.

KONON sepertiga dari kehidupan anak manusia ini digunakan untuk tidur. Dengan demikian andaikan seseorang itu berumur 60 tahun, maka 20 tahun kehidupannya dihabiskan hanya untuk tidur dan jaganya cuma 40 tahun. Kemudian, secara umum seseorang baru mencapai tingkat kedewasaan diperkirakan setelah mencapai usia 15 tahun, dengan demikian waktu efektif untuk meraih nilai kehidupan hanyalah 25 tahun, yakni 40 – 15. Ternyata begitu sedikit, bagaimana pula kalau kesempatan hidup cuma 20 atau 30 tahun, atau jam tidurnya ditambah di kantor, bus kota, tempat pelatihan ataupun di masjid  ketika mendengarkan khotbah Jum’at?.
Dalam pemanfaatan waktu efektif tersebut, banyak sekali kegiatan rutin maupun insidental yang telah kita lakukan. Secara kuantitas memang terhabiskan dan terasa sangat singkat, namun secara kualitas masih perlu dipertanyakan dan mendapat  perhatian ekstra, sebab ’waktu jaga’ bisa bernilai posistif atau pun negatif yang dapat berbuah pahala atau pun dosa.
Betapa malang dan menyedihkan jika waktu tersisa efektif itu akhirnya harus tercabik-cabik di perjalanan, pasar,  kantor, rapat-rapat, tempat hiburan, pos ronda, hobby,  asap rokok ataupun di gejolak nafsu serta angan yang tak akan pernah terpuaskan.
Waktu yang berlari sangat cepat, telah menyentak banyak kehidupan, kejayaan, keangkuhan dan penderitaan dalam bingkai sejarah dan artefak yang terserak. Siapa, apa, di mana dan bagaimana pun kita, sentakan itu pasti datang cepat atau lambat yang dapat memaksa seseorang untuk menyesali ataupun mensyukuri keberadaan singkatnya.
 Usia boleh berbilang, namun umur bisa sangat panjang jika ‘waktu efektif’ tidak terbuang. Tinta emas sejarah banyak bercerita tentang polah anak manusia dengan catatan dalam tanda kurung ( ) untuk waktu kelahiran dan wafatnya. Tidak banyak yang berusia  sampai 100 tahun, namun nama, temuan, perilaku dan petuah mereka terasa masih sangat aktual dan menjadi sumber inspirasi. Catatan dalam tanda kurung ( ) itu telah berbicara banyak tentang kelahiran, perjuangan, kegagalan maupun kesuksesan  yang akan selalu berujung di titik jeda, ‘kematian’, siapapun dia.
Mengingat masih ada perjalanan panjang yang harus dilewati dan tidak terukur lamanya setelah kehidupan singkat ini, manusia akan selalu berada dalam  posisi ‘merugi’ jika eksistensinya dalam pengisian waktu itu tidak bermanfaat dan sia-sia. Hanya kemapuan dan kemauan untuk mengoptimalkan eksistensi di dimensi waktu itulah yang memungkinkan manusia bisa terbebas dari posisi kerugian tersebut. Untuk itu menurut Al Qur’an Surat Al Ashr, keimanan yang sangat individual dan vertikal merupakan indikator utama nilai, sedang amal salih yang berdimensi sosial merupakan keniscayaan bahwa keberadaan ini harus bermanfaat. Sinergitas keimanan dan amal salih yang selalu pasang-surut serta dipengaruhi banyak faktor, memerlukan tekad dan kerja  keras untuk istiqomah (konsisten) saling mengingatkan tentang kebenaran dan kesabaran walaupun kuping telah tertutup dan langit akan runtuh. Jangan pernah berhenti dan kecewa, bertahanlah selalu dalam usaha dan proses, sebab ‘hasil akhir’ mutlak domein-Nya.
Berhitunglah dengan ketat dan cerdas soal ‘waktu’ tersisa, sebab, “Rezeki yang tidak diperoleh hari ini masih dapat diharapkan lebih dari itu diperoleh esok, tetapi waktu yang berlalu hari ini  tidak mungkin dapat diharapkan kembali esok,” demikian tausiah Imam Ali, r.a. dalam sebuah kesempatan. Wallahu a’lam.
Ya Allah ya Rabb, tolong bimbing kami selalu untuk dapat mengisi hari tersisa agar tidak salah langkah dalam kesia-siaan dan kerugian. Di luas dan indahnya cinta-Mu, kami gantungkan harapan dan kecemasan. Ya Rasul salam alaika.

          Marabahan,  Juni 2012


          AKHMAD ROYANI, SH